Riset: Industri Pindar Kian Menjadi Infrastruktur Penting Penopang Likuiditas, Inklusi, dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Jakarta, Maret 2026 – Industri pinjaman daring (Pindar) di Indonesia semakin menegaskan transformasinya dari sekadar alternatif pembiayaan menjadi salah satu infrastruktur keuangan strategis bagi perekonomian nasional. Bukan lagi sekadar pelengkap sistem perbankan, Pindar kini tampil sebagai salah satu infrastruktur keuangan yang menopang likuiditas rumah tangga, memperluas inklusi keuangan, dan mendorong aktivitas ekonomi di segmen yang selama ini luput dari jangkauan bank.
Transformasi tersebut tergambar dalam laporan riset terbaru Katadata Insight Center bertajuk ‘‘Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia’. Riset ini disusun melalui analisis data nasional serta survei terhadap ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penerima pembiayaan dari platform Pindar. Temuan di dalamnya menegaskan peran Pindar dalam menutup kesenjangan pembiayaan (funding gap) struktural (funding gap) yang masih membayangi kelompok masyarakat unbankable dan underserved.
Untuk diketahui, hingga Agustus 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 25,5 juta penerima pinjaman aktif dengan total outstanding industri mencapai Rp87,49 triliun, tumbuh 21,46% secara tahunan.
“Data ini menegaskan bahwa Pindar bukan lagi alternatif pilihan, namun sudah menjadi bagian dari infrastruktur pembiayaan nasional, baik sebagai penyangga likuiditas rumah tangga maupun sebagai katalis pertumbuhan usaha, terutama UMKM,” ujar Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, dalam Paparan Riset Industri Pindar dan Buka Puasa Bersama Media di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Penopang Likuiditas dan Stabilitas Makro
Dalam dua tahun terakhir, riset mencatat adanya pergeseran komposisi pembiayaan industri. Porsi pinjaman produktif menurun dari sekitar 30% pada paruh akhir 2024 menjadi sekitar 20% pada pertengahan hingga Agustus 2025. Namun, kondisi ini justru menegaskan peran penting pendanaan konsumtif sebagai buffer likuiditas rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi.
Dalam konteks makroekonomi, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52–58% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam lima tahun terakhir. “Ketika pembiayaan produktif melambat, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci agar permintaan domestik tidak jatuh. Di sinilah pembiayaan multiguna Pindar berfungsi sebagai stabilisator,” ujar Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansyah, dalam kesempatan yang sama.
Namun, pada praktiknya, produk multiguna Pindar banyak digunakan untuk menunjang produktivitas harian, seperti komunikasi dan mobilitas kerja. Artinya, pendanaan konsumtif tidak selalu identik dengan hal yang non-produktif, karena penggunaannya tetap berkontribusi pada pergerakan ekonomi dan penciptaan nilai tambah.
Lebih jauh, riset menemukan bahwa tidak seluruh pembiayaan konsumtif bersifat non-produktif. Sebagian dana digunakan untuk kebutuhan fungsional yang menunjang produktivitas, seperti komunikasi, transportasi, serta mobilitas kerja. Dengan multiplier effect pada sektor perdagangan, transportasi, dan telekomunikasi, penyaluran ini menciptakan dampak berantai terhadap output nasional, pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja.
Dampak Nyata bagi UMKM dan Perekonomian Nasional
Di sisi produktif, kontribusi Pindar terhadap sektor usaha tetap signifikan. Per Agustus 2025, outstanding pembiayaan kepada UMKM tercatat mencapai Rp29,64 triliun atau sekitar 33,83